Ojek Sepeda
Namanya adalah pak Masruki (mudah2an ejaan namanya benar). Dia kujumpai pada suatu hari petualanganku di kota lama Jakarta. Pekerjaannya adalah pengemudi ojek sepeda. Dulu, aku pernah liat tayangan ” Aku Ingin Menjadi” di Trans TV, profesinya tukang ojek sepeda, kali ini aku melihat dengan mataku sendiri profesi itu.

me and pak masruki
Di dalam kecantikan kota lama, dia mencari nafkah. Mengais rejeki diantara banyak pengunjung dan rekan seprofesi yang lain. Pertama kali pak Masruki dan menawarkan jasanya, aku berpikir harga yang ditawarkan cukup mahal. 25 ribu untuk satu kali tour. Beliau akan mengantar kita ke 5 tujuan:
1. Pelabuhan Sunda Kelapa
2. Menara Syah Bandar
3. Museum Bahari
4. Jembatan Kota Intan
5. Toko Merah
Tapi setelah merasakan mengunjungi ke 5 tempat itu, aku jadi berpikir harga itu sudah relatif murah. Aku sendiri mungkin akan merasa malas kalo harus mengunjungi tempat2 itu dengan naik sepeda sendirian, meskipun masih satu komplek, tapi jarak dari satu tempat ke tempat lain cukup jauh. Apalagi buat si bapak yang harus membonceng aku yang lumayan ga langsing ini
Dan hebatnya lagi, pak Masruki dan temannya2 ga cuma mengantarkan pengunjung aja, mereka sekaligus berperan sebagai pemandu wisata. Beneran deh, pantas direkrut jadi guru sejarah. Mereka fasih banget menjelaskan sejarah tempat2 yang kita kunjungi, padahal rata-rata mereka bukan penduduk asli loh… Di atas ojek sepeda yang melaju di kawasan kota lama, aku jadi membayangkan dan menerka2 kehidupan di tempat ini ratusan tahun yang lalu. Seperti apa ya dulu? Mungkin di waktu itu, sepeda seperti yang kunaiki berjumah sangat banyak dan jadi alat transportasi utama, kalo kita bersepeda, di sekeliling kita adalah noni2 Belanda yang lagi lirik2an sama mister yang lagi lewat, hahaha…
Sedihnya, Pak Masruki bercerita kalo pekerjaan ini ngga menentu. Kadang sehari bisa dapat sampai 4 penumpang, tapi kadang2 juga ga dapat sama sekali. Hemm… situasi yang pasti sulit. Tapi kata beliau, semua dijalaninya dengan ikhlas. Dan beliau ga berniat mencari pekerjaan lain, karena memang Kota Lama dan ojek sepeda adalah hidupnya.
Petualanganku hari itu, bener2 berkesan. Teman-teman yang menyenangkan, tempat yang indah dan pak Masruki yang ramah. Sampai jumpa lagi Pak Masruki. Aku pasti kembali, menemuimu dan Kota Lamamu ^-^
Juni 2009
English Day, Silent Day
Di kantor, lagi ada kebijaksanaan tidak resmi untuk menjadikan hari Jumat sebagai English Day. Sebenarnya sudah sejak lama aturan itu ditetapkan salah seorang pegawai senior, setiap orang yang berhubungan dengan dia hari itu harus ngomong pake bahasa inggris. Orangnya lucu sih, tapi kalo harus ngomong pake bahasa inggris dengan bapak itu, rasanya kagok banget.
Dia pula yang mengusulkan English daya secara nasional (nasional dlm kantor maksudnya ^_^ ) Maksudnya sih baik, karena kantorku sering banget berhubungan dengan orang asing dalam pekerjaannya, jadi biar kita ga takut2 ngomong sama mereka.
Jumat kemarin, adalah hari pertama diberlakukan keputusan itu. Ihhhh, kantor jadi sepi tapi lucu. Sepi karena kita males ngomong sama teman harus pake bahasa inggris, Ribet! Lucunya, kita suka2 sembunyi2 ngomong pake bahasa asli, entah Indonesia, jawa, betawian. Dan kalo ada bos2 yang lewat, baru kita ngobrol pake bahasa Inggris. hehehe… lucu banget di kantor hari Jumat.
Hari itu ditutup dengan kursus bahasa inggris. Biasanya kita cm bahas soal pronoun biar ngomongnya bener. Dan tau ga apa yang bikin semangat masuk ke kelas? Snack sore yang ga setiap hari kita dapat. Hehe… benar2 karyawan yang ga pengen pintar
its me again

Hello, its me again
Pasti semua kangen sama aku ya? hehe (GR ku ga ketulungan nih )
Lama banget ga nulis. Kerjaan seperti ga ada habisnya. Pusing jg terus datang silih berganti (kesannya menderita banget ya?).
Tapi, mengutip kata2 seorang teman (hello Mr. Call Center Supervisor of 123 ^-^ ), belum tentu yang kita hadapi atau terima sekarang adalah yang terbaik, tapi tantangan kita adalah, untuk berbuat dan menjadikan hal tersebut jadi yang terbaik . Begitulah kira-kira kalo ga salah kutip, hehe.
Sejak tulisan terakhir, banyak hal2 yang aku lakukan.
Belajar program Sistem informasi yang ruwet, pergi ke Bandung untuk pertamakalinya (sayangnya untuk urusan kerjaan, jadi ga bisa jalan2
) dan pulangnya minta kerokan teman kost karena masuk angin , ikut latihan paskib hari Kartini di kantor, jalan2 sama teman yang mau pindah kantor ke surabaya… banyak lagi sebenarnya.
Setiap hal selalu membuatku tau hal-hal baru. Kenal orang baru, tempat baru, pengetahuan baru… I like it.
Itu yang jadi pelipur kerinduanku pada orang2 terdekatku yang sekarang lagi jauh. Dan membuatku bersemangat menjalani apapun tugas yang diberikan padaku (segitunya, hehe..)
Jadi, aku akan tetap tersenyum, menghadapi semuanya. Dan aku, akan menjadikan semua ini yang terbaik untukku ![]()
pinky me
Kalo aku memilih judul pinky me, trus milih thema yg catchy pink, bukan karena aku lagi terpengaruh sama valentine, bukan juga lagi sok romantis, tapi…
ga tau kenapa bosen aja sama thema yang lama, padahal temanku bilang thema yg kemarin bagus.
Ga tau ni, lagi bosen sama semua hal. Pengen berbuat sesuatu tapi ga tau apa. Pengen nulis yang bermutu tapi juga lagi macet ide.
Akhirnya ganti2 thema aja
dan pink itu yang paling menarik hati.
what a bored sunday
Metromini 72
Kalo kemarin aku sempat nulis tentang welcome to Jakarta, ini salah satu bagian dari Jakarta. Kalo kata orang jawa, aku nggumun alias terheran2 dengan metromini ini.

Dari sekian banyak jalur metromini, aku adalah pengguna setia rute nomor 72 yang mengambil rute Lebak Bulus – PIM – Blok M untuk pulang pergi ke kantor. Kalo melihatnya dari kejauhan sewaktu berangkat ato pulang kantor, pasti aku tersenyum. Tapi, kalo udah masuk ke dalamnya, reaksiku jadi bermacam2.
Pertama kali naik, waduh aku sport jantung. Larinya ampun2an, seenak hati sang sopir. Dia pengen jalan ya jalan, dia pengen ngerem ya mengeremlah dia tanpa mengambil langkah diperlambat beraturan lebih dulu. Udah gitu, kalo berhenti, mepet banget dengan mobil atau kendaraan lain di depannya.
Makin sering menggunakannya, makin banyaklah pengalamanku dengannya.
Contohnya ni, soal sopir. Pernah suatu hari, sopirnya masih ABG. Bener2 ABG.! Mungkin seusia anak SMP kelas 1 ato 2. Tapi penampilannya udah sangar, pake tindikan di telinga dan bahasa orang gede. Keneknya malah bapak2. Dalam hati, aku dzikir terus (hehehe) mudah2an selamat sampai tujuan. Tapi anak kecil ini malah lebih hati2 ketimbang sopir lainnya, dan dalam sejarahku naik metromini, dia yang paling sopan nyupirnya (segitunya). Ga tau juga kenapa bisa lolos dari polisi.
Ada sopir juga penumpang. Dari mulai mas2 yang ganteng, mbak2 yang cantik2 dan wangi2, nenek2, kakek2, anak kecil, turut melaju bersama sang metromini.Kadang2 ada penjual yang ikut naik. Dari yang mukanya melas banget waktu jualan sampai yang mukanya biasa aja (ngapain dibahas ya?). Ada penumpang yang baik, yang ngasih tempat duduknya ke cewek atau orang tua, ada yang cuek aja, atau ngasih kursinya ke orang lain karena tempat duduknya ga enak ![]()
Dari semuanya, penumpang yang paling ga kusukai adalah yang merokok di dalam metromini. Udah macet, udara di luar kotor, dia dengan baik hati menambah polusi di dalam. Huuuh!
Trus soal pengamennya. Siap2 aja uang receh banyak kalo naik metromini. Berbagai jenis pengamen akan dengan setia menghibur kita. Banyak loh yang suaranya bagus, jadinya bisa jadi hiburan waktu pusing karena macet. Tapi ada juga yang menyebalkan, udah nyanyinya asal, marah2 lagi kalo ga banyak penumpang yang ngasih duit.
Tapi, meskipun jengkel sama sopir yang ugal2an, kadang kasihan juga sama mereka. Kalo pas penumpang lagi sepi, trus penumpang milih metromini lain, kasihan gitu liat wajah mereka yang kecewa. Pernah suatu hari, aku naik metro yang lumayan kosong, eh tau2 dicegat sama polisi dan dimintain duit. Iya, dimintain duit karena setauku sopirnya ga melanggar apa2. Polisinya minta duit 15rb, tapi keneknya nawar jadi 5rb. Polisinya bilang, “goceng bisa buat apaan?”. Akhirnya tawar menawar berhenti di angka 10rb. Polisi….polisi! ![]()
However, thanks to metromini 72 deh. Berkat mereka, aku bisa berangkat kerja dengan murah dan ga nyaman (murah minta nyaman
) Mungkin ga yah, sarana angkutan rakyat yang murah meriah ini suatu saat bisa jadi nyaman dan jadi angkutan publik yang diandalkan?
I deserve the best
Orang yang mencintaiku
Dia harus yang terhebat
Bukan, bukan karena aku terlalu tinggi menilai diriku sendiri
Dia hebat karena dia harus mencintaiku apa adanya
Menerima segala kelemahanku
Memberi toleransi atas kekuranganku
Memberi maafnya atas kesalahanku
Melindungiku,
Berdoa untukku
Apakah itu cinta yang bersyarat?
Bukan, itu bukan cinta yang bersyarat
Seseorang yang mencintaiku
Akan memberikan semua itu tanpa perlu kuminta
Dan aku, telah menemukannya
Welcome to Jakarta
Sebenernya sih, tulisan ini lumayan telat dibuatnya, karena aku udah di kota ini kurang lebih 2 bulan..
Tapi baru satu minggu yang lalu, setelah dapat SK penempatan buat on the job training, aku resmi tinggal dan berkantor di sini.
Aku ga pernah bayangkan akan tinggal di kota ini, setelah sepanjang hidup tinggal di kota2 yang lebih kecil, Madiun, Jombang, Solo, Gresik, Surabaya…see, orang yang pernah tinggal di kota-kota itu akan tau betapa nyaman dan damainya hidup di sana (kecuali Surabaya yang udah mendekati Jakarta padatnya, tapi tetap cinta sama kota satu ini).
Sejak dulu aku paling takut akan bayangan hidup dan tinggal di Jakarta. Kalo ada lowongan yang menyebutkan Jakarta sebagai daerah penempatannya, bisa dipastikan aku akan mundur teratur, betapapun bagusnya kesempatannya. Waktu akhirnya ikut Lowongan PLN dan mengisi surat pernyataan bersedia ditempatkan dimanapun, aku mengisi dengan doa dalam hati “dimanapun asal bukan Jakarta”, hehe…
Tapi Allah ku berkata lain. Beliau mencobaku dengan menempatkanku di sini.
Sebenarnya apa sih yang bikin aku takut sama kota ini? Cerita tentang Jakarta di manapun selalu menyiratkan ketidaknyamanan. Kotor, polusi, macet, ketidakramahan, serba mahal, tingkat kejahatan tinggi…. Arrrgh, I hate those things.
Dan mulailah aku menjalani semua itu, bertemu dengan hal2 mengerikan tentang Jakarta yang ada dalam daftarku. Tempat sampah jarang kelihatan, polusi dimana2, pusing kena macet, senyum sama orang tapi dicuekin, kaget waktu habis makan dan membayar harga yang relatif tinggi yang disebut penjual, mengejar2 metromini yang larinya ampun2an….. dst, dst
Tapi, here I am. Harus menghadapi semuanya. Mungkin suatu saat, setelah lama berkenalan dengan kota ini aku akan menemukan sisi lainnya. Just like people said, dont judge a book from the cover. Mungkin aku harus mengenalnya lebih dalam untuk bisa mencintainya (tsahhh…mencintainya).
So Jakarta, here I come
Pak SIPEG
Beberapa hari yang lalu, seorang pembicara di kelas diklat Prajabatanku memberi sebuah renungan padaku. Sayang sekali aku lupa nama beliau.
Penampilannya sederhana, dengan seragam salah satu BUMN paling berjasa di Indonesia. Rambutnya juga tidak terlihat ditata dengan rapi. Dengan logat Kroya-nya yang masih samar terdengar setelah puluhan tahun tinggal di Jakarta, beliau berbicara di depan kami, siswa2 diklat yang mayoritas adalah Ahli Madya alias lulusan Diploma. Di tengah penjelasannya soal Sistem Informasi Pegawai, dia menceritakan sedikit kisah hidupnya.
Anak petani ini, memulai karirnya di PLN di tahun 1985. Saat itu dengan bekal ijasah SMP dia melamar menjadi security alias satpam dengan status pegawai harian. Di tahun 96, barulah diangkat menjadi pegawai tetap dengan peringkat gaji antara skala 1- 26, beliau di peringkat 24. Bayangkan, 11 tahun harus menunggu untuk menjadi pegawai tetap.
Di tahun 2000, karirnya meningkat dengan diangkat menjadi pegawai di bagian umum. Dan hingga sekarang, beliau sudah beberapa kali mengikuti tes untuk kenaikan peringkat dan Alhamdulillah sudah berada di level 17. Sekarang, jabatannya adalah staf SDM Pusdiklat PLN. Beliau mahir mengoperasikan komputer dan aplikasi Sistem Informasi Pegawai yang menurut kami sedikit rumit. Hebatnya, semua itu dipelajari dengan otodidak. Tidak ada pendidikan formal yang lebih tinggi maupun kursus lain kecuali Diklat Perusahaan.
Aku membandingkannya dengan kami yang baru saja mengikuti Diklat, baru masuk saja, peringkat kami sudah di level 20. Teman Diklat lainnya yang pendidikannya lebih tinggi langsung menempati posisi 18. Kami hanya harus menunggu 1 tahun sebelum diangkat menjadi pegawai dengan mengikuti OJT. Bersyukurlah kami. Dibandingkan dengan bapak itu,kami jauh lebih beruntung.
Memang, semuanya dipengaruhi tingkat pendidikan. Tapi terkadang hidup ini terasa begitu tidak adil. Seandainya beliau dulu punya kesempatan lebih untuk sekolah, mungkin nasibnya akan berubah lebih cepat, dan posisi yang ditempatinya sekarang mungkin akan lebih tinggi. Tapi dia hanya berujar, “rejeki, semua udah ada yang atur”. Beliau hanya berusaha untuk sabar dan fokus untuk setiap apa yang beliau kerjakan.
Dan hasilnya bisa beliau nikmati sekarang, buah kesabaran dan ketekunannya untuk belajar. Beliau bisa menghidupi keluarganya denganbaik dan cukup. Satu kata beliau yang masih terngiang, hidup kita nanti ditentukan pilihan kita sekarang, jadi bijaksanalah dalam mengambil sebuah pilihan. Dan Allahlah sebaik2 pengambil keputusan, maka ingatlah Dia dalam setiap pilihan yang kita ambil.
Hari itu Pak Sipeg (karena aku lupa namanya, jadi kuambil dari materi yang dia ajarkan, Sistem Informasi Pegawai
) memberiku sebuah renungan, untuk selalu bersabar, belajar dan beryukur. Bisakah kita belajar darinya?
Smell Like Kids Spirit
Pernahkah suatu aroma membuatmu ingat akan sesuatu hal? Membawa kenangan jauh dari waktu yang telah lampau?
Aku pernah.
Seringkali di suatu tempat, sebuah wewangian menyeruak, dan membawaku ke suatu masa, yang mungkin masih bisa kunikmati, atau tak bisa diulang lagi.
Seperti pagi ini, di depan kantor, Pohon2 Tanjung di depan kantor menebar wangi bunga Tanjung, membawaku ke masa 11 atau 15 tahun lalu, saat aku masih bersekolah di sebuah Sekolah Dasar di Jombang. Tiap pagi hari atau waktu istirahat, kami biasa bermain di bawah rindangnya dua pohon Tanjung. Pohon yang tinggi dan besar, konon usianya sudah 100 tahun lebih. Dan kami dengan nyamannya duduk di bawah pohon itu.
Aku masih ingat betul aroma yang dihasilkannya. Bunga tanjung putih kecil berjatuhan, disertai buahnya yang berwarna oranye mirip buah belinjo. Tentu tidak mungkin mengulangi masa itu. Saat aku masih anak kecil yang manis, dan berteman dengan beberapa teman yang manis juga
. Lucu mengingat kami pernah membentuk sebuah “gank” dengan nama “Magic Girls” mengikuti sebuah judul kartun Jepang yang populer waktu itu. Setiap kali aku bertemu dengan teman masa kecilku, atau guru yang pernah mengajar di sana, aroma dan bayangan pohon itu selalu terbayang.
Namun aroma yang tak bisa dilupakan adalah aroma tubuh ibuku, aroma yang selalu kurindukan kapanpun. Mencium bau keringatnya setelah sepanjang pagi dan siang bekerja mengurus rumah dan dapur. Siang hari saat ibu berbaring melepaskan lelah, aku aku akan tidur di sebelahnya, memeluknya dari belakang dan mencium aroma tubuhnya.
Memang tidak harum. Karena ibu tidak akan sempat memakai wewangian apapun sebelum mengawali harinya. Dengan suami dan 5 orang yang harus diurusi, ibu hanya sempat merias diri saat ada undangan pernikahan atau pengajian.
Tetapi entahlah, aku begitu menyenanginya, merindukannya. Tiada hal yang sama dengan aromanya. Tidak seperti wangi bunga tanjung yang masih bisa kutemukan di tempat yang berbeda.
Hingga sekarang, saat senang, gembira karena baru dapat rejeki, saat ada kabar baik yang bisa kubagi, saat sedih, saat seluruh tubuh terasa lelah atau meratapi sakit yang kadang berkunjung, tiada yang lebih kurindukan selain aroma tubuh ibuku. Rasa nyaman berbaring di sampingnya dan memeluknya.
Aku kangen ibu.
Nasi Jamblang, Empal Gentong, dkk
Liburan pertengahan Agustus kemarin, aku dan keluarga besar menghadiri pernikahan salah satu sepupu di Cirebon. Kami berangkat dari Madiun jam 11 siang, dan sempat terhenti beberapa lama di Maospati karena sang mobil mogok. Kurang lebih jam 3, kami sampai di Salatiga dan memutuskan berhenti makan siang di sebuah warung bakso iga. haha…geli juga sih, masak jauh2 dari Madiun akhirnya makan bakso. Tapi gapapa kok, its delicious. Dan bapak yang jualan, wong Madiun juga ![]()
Sampai di Cirebon, udah hampir jam 11 malam, tapi kami masih semangat juga karena ketemu keluarga yang udah bertahun2 ga ketemu. Bude Pakde dari Palembang, dari Pekanbaru, dari Jakarta, sepupu seumuran yang udah punya anak (hiks hiks ngiri). Diberkahilah sepupuku yang punya hajat, bisa bikin silaturahmi keluarga. Kali ini makan malamnya sih ga terlalu istimewa. Hanya beli nasi padang yang rasanya biasa karena udah banyak warung yang tutup.
Paginya, kami ga sempat sarapan karena acaranya akadnya diadakan pagi jam 9 dan masih ada yang harus berbelanja barang2 seserahan yang kurang lengkap. Tapi di tempat manten putri, kami disuguhi lontong opor, yang kata para ibu2 keasinan. Tapi not bad kok, dan adekku yang paling kecil, kelas 2 SD malah berburu es puter pagi2. Petualangan kulinernya justru kami temukan siang hari di acara resepsi. Hehehe..dasar ga modal, masak petualangan kuliner di tempat hajatan. Tapi beneran kok, akhirnya kita bisa makan makanan yang selama ini cuma bisa lihat di TV.
Tema lunch buffetnya siang itu makanan khas Cirebon. Ada Empal gentong, Tahu Gejrot, Mie Koclok, Siomay dan makanan standart hajatan lain seperti sup, cap jay, udang asam manis dan kawan2. Makanan khasnya disajikan langsung dari gerobak penjualnya. Karena pengen mencicipi semua tapi kapasitas perut terbatas, akhirnya kami sepakat masing2 orang mengambil sample dan dicicipi bareng2. agak malu2in juga sih, tapi toh tetap aja kami makan dengan nyamannya, hehe…
Empal gentongnya mungkin terasa seperti kare ya, atau semacam soto kental bersantan dengan potongan daging sapi yang empuk dan banyak. Definisi empal di tempat tinggal kami adalah irisan melebar daging sapi yang digoreng, jadi yang ini jauh dari gambaran kami. Tapi keseluruhan enak kok, kuahnya gurih dan dagingnya empuk. Seorang undangan terlihat menanyakan tempat mangkal bapak penjualnya. Tahu gejrotnya adalah potongan tahu goreng yang disiram kuah gula merah bening dan acar bawang merah. Mungkin enak dimakan dengan nasi panas dan cabe rawit, tapi sayang perut sudah terlalu kenyang untuk menambah nasi. Sementara makanan yang lain, seperti mie koclok tidak sempat kucicipi. Tapi dari ekspresi adik yang mencicipinya, kayaknya ga terlalu nikmat. Mie Kuning yang disiram dengan kuah putih kental (mungkin santan), bertabur irisan daging ayam dan telur. Hasilnya, kami pulang ke penginapan dengan perut penuh dan kenyang, Alhamdulillah. Waktu jalan pulang ke penginapan masih sempat beli es cincau kelapa di pinggir jalan saking panasnya udara pinggir pantai.
Petualangan lain ada di malam hari, waktu sang pengantin mengajak makan malam bersama. Kami tidak tahu akan dibawa kemana, setelah menempuh jarak lumayan jauh melewati pusat kota, kami sampai di sebuah warung kecil di pinggir jalan, tulisannya “Nasi Jamblang”. Setauku, Jamblang adalah nama buah yang kalo di Jawa disebut Juwet. Trus apa hubungannya? Ternyata memang ga ada hubungannya
Konon Jamblang adalah nama desa tempat makanan ini berasal.
Sebenarnya, nasi Jamblang mungkin sama dengan Sego Kucing di daerah Solo dan sekitarnya, sama2 berporsi kecil dan berteman banyak lauk. Yang membedakan, nasi jamblang disajikan di atas daun jati. Nasinya sebesar kepalan tangan, dan pelengkapnya, ada semur tahu, sayur tahu, tahu kuning, sate puyuh, ikan asin, semur jengkol, telur dadar, rendang kentang, sayur cumi, jerohan dsb dsb, dan yang tidak boleh ketinggalan sambal goreng merah. Semuanya diletakkan dalam baskom di atas meja depan penjual. Pembelinya duduk di kursi panjang mengelilingi meja. Kami kesengsem dengan banyaknya jenis lauk, tapi kata penjualnya, itu kurang lengkap, kalo datang pagi ada aneka macam pepes dan sayur yang lebih banyak. Dan yang makin bikin kesengsem, dengan jumlah anggota sekitar 20 orang, yang masing2 mengaku kenyang dan puas, kami hanya harus membayar 80 rb. wow….
Paginya kami masih disuguhi makanan khas yang lain, namanya nasi lengko, – nasi yang ditaburi potongan ketimun, tauge, tahu, tempe dan dibubuhi sambal dan kecap asin, versi lain menyebut dibubuhi sambal kacang- dan semacam serabi yang dimakan dengan tempe. Semuanya enak, dan gratis, hehe… Sayang sekali kami harus berangkat pagi2, jadi tidak sempat beli oleh-oleh khas Cirebon. Kami hanya sempat mampir di Brebes dalam perjalanan pulang dan membeli beberapa kilo bawang merah, telor asin dan teh poci set.
Well, Cirebon, I shall return. Just see u next time ![]()
-
Terkini
-
Taut
-
Arsip
- November 2009 (1)
- April 2009 (2)
- Maret 2009 (1)
- Februari 2009 (3)
- Januari 2009 (1)
- September 2008 (3)
- Juli 2008 (2)
-
Kategori
-
RSS
RSS Entri
Komentar RSS