Liburan pertengahan Agustus kemarin, aku dan keluarga besar menghadiri pernikahan salah satu sepupu di Cirebon. Kami berangkat dari Madiun jam 11 siang, dan sempat terhenti beberapa lama di Maospati karena sang mobil mogok. Kurang lebih jam 3, kami sampai di Salatiga dan memutuskan berhenti makan siang di sebuah warung bakso iga. haha…geli juga sih, masak jauh2 dari Madiun akhirnya makan bakso. Tapi gapapa kok, its delicious. Dan bapak yang jualan, wong Madiun juga 
Sampai di Cirebon, udah hampir jam 11 malam, tapi kami masih semangat juga karena ketemu keluarga yang udah bertahun2 ga ketemu. Bude Pakde dari Palembang, dari Pekanbaru, dari Jakarta, sepupu seumuran yang udah punya anak (hiks hiks ngiri). Diberkahilah sepupuku yang punya hajat, bisa bikin silaturahmi keluarga. Kali ini makan malamnya sih ga terlalu istimewa. Hanya beli nasi padang yang rasanya biasa karena udah banyak warung yang tutup.
Paginya, kami ga sempat sarapan karena acaranya akadnya diadakan pagi jam 9 dan masih ada yang harus berbelanja barang2 seserahan yang kurang lengkap. Tapi di tempat manten putri, kami disuguhi lontong opor, yang kata para ibu2 keasinan. Tapi not bad kok, dan adekku yang paling kecil, kelas 2 SD malah berburu es puter pagi2. Petualangan kulinernya justru kami temukan siang hari di acara resepsi. Hehehe..dasar ga modal, masak petualangan kuliner di tempat hajatan. Tapi beneran kok, akhirnya kita bisa makan makanan yang selama ini cuma bisa lihat di TV.
Tema lunch buffetnya siang itu makanan khas Cirebon. Ada Empal gentong, Tahu Gejrot, Mie Koclok, Siomay dan makanan standart hajatan lain seperti sup, cap jay, udang asam manis dan kawan2. Makanan khasnya disajikan langsung dari gerobak penjualnya. Karena pengen mencicipi semua tapi kapasitas perut terbatas, akhirnya kami sepakat masing2 orang mengambil sample dan dicicipi bareng2. agak malu2in juga sih, tapi toh tetap aja kami makan dengan nyamannya, hehe…
Empal gentongnya mungkin terasa seperti kare ya, atau semacam soto kental bersantan dengan potongan daging sapi yang empuk dan banyak. Definisi empal di tempat tinggal kami adalah irisan melebar daging sapi yang digoreng, jadi yang ini jauh dari gambaran kami. Tapi keseluruhan enak kok, kuahnya gurih dan dagingnya empuk. Seorang undangan terlihat menanyakan tempat mangkal bapak penjualnya. Tahu gejrotnya adalah potongan tahu goreng yang disiram kuah gula merah bening dan acar bawang merah. Mungkin enak dimakan dengan nasi panas dan cabe rawit, tapi sayang perut sudah terlalu kenyang untuk menambah nasi. Sementara makanan yang lain, seperti mie koclok tidak sempat kucicipi. Tapi dari ekspresi adik yang mencicipinya, kayaknya ga terlalu nikmat. Mie Kuning yang disiram dengan kuah putih kental (mungkin santan), bertabur irisan daging ayam dan telur. Hasilnya, kami pulang ke penginapan dengan perut penuh dan kenyang, Alhamdulillah. Waktu jalan pulang ke penginapan masih sempat beli es cincau kelapa di pinggir jalan saking panasnya udara pinggir pantai.
Petualangan lain ada di malam hari, waktu sang pengantin mengajak makan malam bersama. Kami tidak tahu akan dibawa kemana, setelah menempuh jarak lumayan jauh melewati pusat kota, kami sampai di sebuah warung kecil di pinggir jalan, tulisannya “Nasi Jamblang”. Setauku, Jamblang adalah nama buah yang kalo di Jawa disebut Juwet. Trus apa hubungannya? Ternyata memang ga ada hubungannya
Konon Jamblang adalah nama desa tempat makanan ini berasal.
Sebenarnya, nasi Jamblang mungkin sama dengan Sego Kucing di daerah Solo dan sekitarnya, sama2 berporsi kecil dan berteman banyak lauk. Yang membedakan, nasi jamblang disajikan di atas daun jati. Nasinya sebesar kepalan tangan, dan pelengkapnya, ada semur tahu, sayur tahu, tahu kuning, sate puyuh, ikan asin, semur jengkol, telur dadar, rendang kentang, sayur cumi, jerohan dsb dsb, dan yang tidak boleh ketinggalan sambal goreng merah. Semuanya diletakkan dalam baskom di atas meja depan penjual. Pembelinya duduk di kursi panjang mengelilingi meja. Kami kesengsem dengan banyaknya jenis lauk, tapi kata penjualnya, itu kurang lengkap, kalo datang pagi ada aneka macam pepes dan sayur yang lebih banyak. Dan yang makin bikin kesengsem, dengan jumlah anggota sekitar 20 orang, yang masing2 mengaku kenyang dan puas, kami hanya harus membayar 80 rb. wow….
Paginya kami masih disuguhi makanan khas yang lain, namanya nasi lengko, – nasi yang ditaburi potongan ketimun, tauge, tahu, tempe dan dibubuhi sambal dan kecap asin, versi lain menyebut dibubuhi sambal kacang- dan semacam serabi yang dimakan dengan tempe. Semuanya enak, dan gratis, hehe… Sayang sekali kami harus berangkat pagi2, jadi tidak sempat beli oleh-oleh khas Cirebon. Kami hanya sempat mampir di Brebes dalam perjalanan pulang dan membeli beberapa kilo bawang merah, telor asin dan teh poci set.
Well, Cirebon, I shall return. Just see u next time 