just my thought

just want to share my days

Selamat Jalan Mita

Pagi ini ada kabar dari grup wa keluarga,

” Cah, mita meninggal”

Berita orang meninggal seringkali datang, dan seringkali pula membuat kita menghela nafas panjang atau bersedih, bila ternyata mereka adalah saudara, kerabat dekat, kenalan atau orang yang kita tau

Tapi, kali ini entah kenapa beritanya membuat sesak. Bahkan aku lupa sama sekali wajah si anak. yang membuat sesak adalah ceritanya.

Aku mengenalnya sebagai putri dari Samini. sebayaku, bukan teman sepermainan, karena aku ga pernah tinggal di rumah bapak dan ibu dari kecil, hanya tau dia adalah putri Yu Kat. Yang kuingat adalah Yu Kat orang tidak punya, tapi selalu ramah kepada siapa saja. Entahlah, aku tidak tau sebenarnya bagaimana kesehatan psikisnya, tapi orang selalu menjadikannya sebagai contoh dan bahan olokan. Begitu juga ibu Yu Kat, mbah Mainem. Yang aku ingat dr beliau adalah sosok nenek-nenek yang berjalan dengan kebaya dan jarik, memakai tongkat kayu sebagai pijakan sambil menggerutu sendiri. Entah apa yang dia gerutui.

Dan pagi ini, beritanya adalah, Mita, anak mbak Samini meninggal tertabrak motor. Dan yang membuatnya sedih, Samini entah dimana sekarang. Kabar terakhir adalah dia merantau ke Malaysia sebagai TKI, meninggalkan Pak Met suaminya, Mita dan adiknya. Namun, setelah dia berangkat tak pernah ada kabar berita lagi.

Pedih hati ini membayangkan seorang anak gadis, kelas 1 SMP yang hidup tanpa ibunya. Menanggung semuanya seorang diri, dan hidupnya berakhir tragis. Yang membuat pedih lagi, Mita tinggal bertiga dengan Pak Met, di gubuk yang bergabung dengan kandang kambing.Dan mita mengalami kecelakaan saat pulang sekolah mengantarkan temannya yang sakit.

 

Duh mita, semoga surga menantimu. Allah sayang padamu nak

Iklan

Oktober 26, 2016 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Sapu Laba-laba

Pagi ini, berangkat kerja dengan risau krna harus meninggalkan Aira yang belum sembuh. Ada mbah nya si, tapi tetap.. meninggalkan anak sakit itu membuat resah tak menentu. Telat karena harus nunggu jadwal minum antibiotiknya, umi pasrah mau jam  berapa smp di kantor.

Di tikungan gang depan, bertemu seorang penjual sapu panjang untuk langit-langit rumah. Sudah lama memang pengen beli mengingat sarang laba-laba di langit-langit rumah sudah pada level mengganggu pandangan mata dan citra tuan rumah kalo ada tamu berkunjung. Tapi… udah jam 8 lewat ( padahal jam masuk setengah 8, hihi…)

Penjual sapu sudah terlewat, pikiran masih menimbang antara beli ato ngga, bayangan bos di kantor meminta rekap absen melintas. ah sudah biarlah. memutar balik motor dan berhenti di depan si bapak.

Alhamdulillah si bapak sudah punya customer, Bapak pemilik rumah besar di tikungan gang. Ikut mendengar jawaban penjual sapu, dari pertanyaan bapak pemilik rumah. Bahwa  penjual sapu berangkat dari Temanggung, dan beliau menumpang truk untuk sampai ke Jogja. Sapu yang dijual adalah kepunyaan orang, yang dia jualkan senilai 20rb sebatangnya. Duh.. hati ini miris rasanya.

Bapak penjual, bersepatu sandal lusuh, celana panjang dan kemeja batik. Sarung tangan kain di tangan kirinya. mungkin dia gunakan untuk menahan sapu-sapu itu di pundaknya. Tangan kanannya memegang jaket tipis. mungkin dia gunakan untuk menahan dingin malam kalo belum bisa pulang.

WP_20160629_001

Dan, melihat barang yang dijualnya, rasanya susah banget dijual. Siapa orang yang kepikiran beli sapu panjang di saat sekarang. Tetapi si bapak tidak berputus asa, dan tetap berusaha berkeliling menggendong sapunya.

Barakallah ya bapak, semoga rizki mu ditambahkan. Mudah2an menjelang lebaran, banyak orang kepikiran beli sapu buat bersih2 rumah.

Daaan, si bapak adalah pembuka pikiran pertamaku untuk menulis lagi. Makasih bapaaak.

Juni 29, 2016 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Ojek Sepeda

Namanya adalah pak Masruki (mudah2an ejaan namanya benar). Dia kujumpai pada suatu hari petualanganku di kota lama Jakarta. Pekerjaannya adalah pengemudi ojek sepeda. Dulu, aku pernah liat tayangan ” Aku Ingin Menjadi” di Trans TV, profesinya tukang ojek sepeda, kali ini aku melihat dengan mataku sendiri profesi itu.

me and pak masruki

me and pak masruki

Di dalam kecantikan kota lama, dia mencari nafkah. Mengais rejeki diantara banyak pengunjung dan rekan seprofesi yang lain. Pertama kali pak Masruki dan menawarkan jasanya, aku berpikir harga yang ditawarkan cukup mahal. 25 ribu untuk satu kali tour. Beliau akan mengantar kita ke 5 tujuan:

1. Pelabuhan Sunda Kelapa

2. Menara Syah Bandar

3. Museum Bahari

4. Jembatan Kota Intan

5. Toko Merah

Tapi setelah merasakan mengunjungi ke 5 tempat itu, aku jadi berpikir harga itu sudah relatif murah. Aku sendiri mungkin akan merasa malas kalo harus mengunjungi tempat2 itu dengan naik sepeda sendirian, meskipun masih satu komplek, tapi jarak dari satu tempat ke tempat lain cukup jauh. Apalagi buat si bapak yang harus membonceng aku yang lumayan ga langsing ini 😛

Dan hebatnya lagi, pak Masruki dan temannya2 ga cuma mengantarkan pengunjung aja, mereka sekaligus berperan sebagai pemandu wisata. Beneran deh, pantas direkrut jadi guru sejarah. Mereka fasih banget menjelaskan sejarah tempat2 yang kita kunjungi, padahal rata-rata mereka bukan penduduk asli loh… Di atas ojek sepeda yang melaju di kawasan kota lama, aku jadi membayangkan dan menerka2 kehidupan di tempat ini ratusan tahun yang lalu. Seperti apa ya dulu? Mungkin di waktu itu, sepeda seperti yang kunaiki berjumah sangat banyak dan jadi alat transportasi utama, kalo kita bersepeda, di sekeliling kita adalah noni2 Belanda yang lagi lirik2an sama mister yang lagi lewat, hahaha…

Sedihnya, Pak Masruki bercerita kalo pekerjaan ini ngga menentu. Kadang sehari bisa dapat sampai 4 penumpang, tapi kadang2 juga ga dapat sama sekali. Hemm… situasi yang pasti sulit. Tapi kata beliau, semua dijalaninya dengan ikhlas. Dan beliau ga berniat mencari pekerjaan lain, karena memang Kota Lama dan ojek sepeda adalah hidupnya.

Petualanganku hari itu, bener2 berkesan. Teman-teman yang menyenangkan, tempat yang indah dan pak Masruki yang ramah. Sampai jumpa lagi Pak Masruki. Aku pasti kembali, menemuimu dan Kota Lamamu ^-^

Juni 2009

November 10, 2009 Posted by | Uncategorized | 3 Komentar

English Day, Silent Day

Di kantor, lagi ada kebijaksanaan tidak resmi untuk menjadikan hari Jumat sebagai English Day. Sebenarnya sudah sejak lama aturan itu ditetapkan salah seorang pegawai senior, setiap orang yang berhubungan dengan dia hari itu harus ngomong pake bahasa inggris. Orangnya lucu sih, tapi kalo harus ngomong pake bahasa inggris dengan bapak itu, rasanya kagok banget.

Dia pula yang mengusulkan English daya secara nasional (nasional dlm kantor maksudnya ^_^ ) Maksudnya sih baik, karena kantorku sering banget berhubungan dengan orang asing dalam pekerjaannya, jadi biar kita ga takut2 ngomong sama mereka.

Jumat kemarin, adalah hari pertama diberlakukan keputusan itu. Ihhhh, kantor jadi sepi tapi lucu. Sepi karena kita males ngomong sama teman harus pake bahasa inggris, Ribet! Lucunya, kita suka2 sembunyi2 ngomong pake bahasa asli, entah Indonesia, jawa, betawian. Dan kalo ada bos2 yang lewat, baru kita ngobrol pake bahasa Inggris. hehehe… lucu banget di kantor hari Jumat.

Hari itu ditutup dengan kursus bahasa inggris. Biasanya kita cm bahas soal pronoun biar ngomongnya bener. Dan tau ga apa yang bikin semangat masuk ke kelas? Snack sore yang ga setiap hari kita dapat. Hehe… benar2 karyawan yang ga pengen pintar 🙂

April 18, 2009 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

its me again

photofunia-21f6e1

Hello, its me again 🙂

Pasti semua kangen sama aku ya? hehe (GR ku ga ketulungan nih )

Lama banget ga nulis. Kerjaan seperti ga ada habisnya. Pusing jg terus datang silih berganti (kesannya menderita banget ya?).

Tapi, mengutip kata2 seorang teman (hello Mr. Call Center Supervisor of 123 ^-^ ), belum tentu yang kita hadapi atau terima sekarang adalah yang terbaik, tapi tantangan kita adalah, untuk berbuat dan menjadikan hal tersebut jadi yang terbaik . Begitulah kira-kira kalo ga salah kutip, hehe.



Sejak tulisan terakhir, banyak hal2 yang aku lakukan.
Belajar program Sistem informasi yang ruwet, pergi ke Bandung untuk pertamakalinya (sayangnya untuk urusan kerjaan, jadi ga bisa jalan2 😛 ) dan pulangnya minta kerokan teman kost karena masuk angin , ikut latihan paskib hari Kartini di kantor, jalan2 sama teman yang mau pindah kantor ke surabaya… banyak lagi sebenarnya.

Setiap hal selalu membuatku tau hal-hal baru. Kenal orang baru, tempat baru, pengetahuan baru… I like it.

Itu yang jadi pelipur kerinduanku pada orang2 terdekatku yang sekarang lagi jauh. Dan membuatku bersemangat menjalani apapun tugas yang diberikan padaku (segitunya, hehe..)

Jadi, aku akan tetap tersenyum, menghadapi semuanya. Dan aku, akan menjadikan semua ini yang terbaik untukku 🙂


April 4, 2009 Posted by | daily fresh | 4 Komentar

pinky me

Kalo aku memilih judul pinky me, trus milih thema yg catchy pink, bukan karena aku lagi terpengaruh sama valentine, bukan juga lagi sok romantis, tapi…

ga tau kenapa bosen aja sama thema yang lama, padahal temanku bilang thema yg kemarin bagus.

Ga tau ni, lagi bosen sama semua hal. Pengen berbuat sesuatu tapi ga tau apa. Pengen nulis yang bermutu tapi juga lagi macet ide.

Akhirnya ganti2 thema aja 🙂 dan pink itu yang paling menarik hati.

what a bored sunday 😦

Maret 1, 2009 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

Metromini 72

Kalo kemarin aku sempat nulis tentang welcome to Jakarta, ini salah satu bagian dari Jakarta. Kalo kata orang jawa, aku nggumun alias terheran2 dengan metromini ini.

metro-2

Dari sekian banyak jalur metromini, aku adalah pengguna setia rute nomor 72 yang mengambil rute Lebak Bulus – PIM – Blok M untuk pulang pergi ke kantor. Kalo melihatnya dari kejauhan sewaktu berangkat ato pulang kantor, pasti aku tersenyum. Tapi, kalo udah masuk ke dalamnya, reaksiku jadi bermacam2.

Pertama kali naik, waduh aku sport jantung. Larinya ampun2an, seenak hati sang sopir. Dia pengen jalan ya jalan, dia pengen ngerem ya mengeremlah dia tanpa mengambil langkah diperlambat beraturan lebih dulu. Udah gitu, kalo berhenti, mepet banget dengan mobil atau kendaraan lain di depannya.

Makin sering menggunakannya, makin banyaklah pengalamanku dengannya.

Contohnya ni, soal sopir. Pernah suatu hari, sopirnya masih ABG. Bener2 ABG.! Mungkin seusia anak SMP kelas 1 ato 2. Tapi penampilannya udah sangar, pake tindikan di telinga dan bahasa orang gede. Keneknya malah bapak2. Dalam hati, aku dzikir terus (hehehe) mudah2an selamat sampai tujuan. Tapi anak kecil ini malah lebih hati2 ketimbang sopir lainnya, dan dalam sejarahku naik metromini, dia yang paling sopan nyupirnya (segitunya). Ga tau juga kenapa bisa lolos dari polisi.

Ada sopir juga penumpang. Dari mulai mas2 yang ganteng, mbak2 yang cantik2 dan wangi2, nenek2, kakek2, anak kecil, turut melaju bersama sang metromini.Kadang2 ada penjual yang ikut naik. Dari yang mukanya melas banget waktu jualan sampai yang mukanya biasa aja (ngapain dibahas ya?). Ada penumpang yang baik, yang ngasih tempat duduknya ke cewek atau orang tua, ada yang cuek aja, atau ngasih kursinya ke orang lain karena tempat duduknya ga enak

Dari semuanya, penumpang yang paling ga kusukai adalah yang merokok di dalam metromini. Udah macet, udara di luar kotor, dia dengan baik hati menambah polusi di dalam. Huuuh!

Trus soal pengamennya. Siap2 aja uang receh banyak kalo naik metromini. Berbagai jenis pengamen akan dengan setia menghibur kita. Banyak loh yang suaranya bagus, jadinya bisa jadi hiburan waktu pusing karena macet. Tapi ada juga yang menyebalkan, udah nyanyinya asal, marah2 lagi kalo ga banyak penumpang yang ngasih duit.

Tapi, meskipun jengkel sama sopir yang ugal2an, kadang kasihan juga sama mereka. Kalo pas penumpang lagi sepi, trus penumpang milih metromini lain, kasihan gitu liat wajah mereka yang kecewa. Pernah suatu hari, aku naik metro yang lumayan kosong, eh tau2 dicegat sama polisi dan dimintain duit. Iya, dimintain duit karena setauku sopirnya ga melanggar apa2. Polisinya minta duit 15rb, tapi keneknya nawar jadi 5rb. Polisinya bilang, “goceng bisa buat apaan?”. Akhirnya tawar menawar berhenti di angka 10rb. Polisi….polisi!

However, thanks to metromini 72 deh. Berkat mereka, aku bisa berangkat kerja dengan murah dan ga nyaman (murah minta nyaman 😛 ) Mungkin ga yah, sarana angkutan rakyat yang murah meriah ini suatu saat bisa jadi nyaman dan jadi angkutan publik yang diandalkan?

Februari 21, 2009 Posted by | daily fresh | | 13 Komentar

I deserve the best

Orang yang mencintaiku

Dia harus yang terhebat

Bukan, bukan karena aku terlalu tinggi menilai diriku sendiri

Dia hebat karena dia harus mencintaiku apa adanya

Menerima segala kelemahanku

Memberi toleransi atas kekuranganku

Memberi maafnya atas kesalahanku

Melindungiku,

Berdoa untukku

Apakah itu cinta yang bersyarat?

Bukan, itu bukan cinta yang bersyarat

Seseorang yang mencintaiku

Akan memberikan semua itu tanpa perlu kuminta

Dan aku, telah menemukannya

Februari 17, 2009 Posted by | Uncategorized | 6 Komentar

Welcome to Jakarta

Sebenernya sih, tulisan ini lumayan telat dibuatnya, karena aku udah di kota ini kurang lebih 2 bulan..

Tapi baru satu minggu yang lalu, setelah dapat SK penempatan buat on the job training, aku resmi tinggal dan berkantor di sini.

Aku ga pernah bayangkan akan tinggal di kota ini, setelah sepanjang hidup tinggal di kota2 yang lebih kecil, Madiun, Jombang, Solo, Gresik, Surabaya…see, orang yang pernah tinggal di kota-kota itu akan tau betapa nyaman dan damainya hidup di sana (kecuali Surabaya yang udah mendekati Jakarta padatnya, tapi tetap cinta sama kota satu ini).

Sejak dulu aku paling takut akan bayangan hidup dan tinggal di Jakarta. Kalo ada lowongan yang menyebutkan Jakarta sebagai daerah penempatannya, bisa dipastikan aku akan mundur teratur, betapapun bagusnya kesempatannya. Waktu akhirnya ikut Lowongan PLN dan mengisi surat pernyataan bersedia ditempatkan dimanapun, aku mengisi dengan doa dalam hati “dimanapun asal bukan Jakarta”, hehe…

Tapi Allah ku berkata lain. Beliau mencobaku dengan menempatkanku di sini.

Sebenarnya apa sih yang bikin aku takut sama kota ini? Cerita tentang Jakarta di manapun selalu menyiratkan ketidaknyamanan. Kotor, polusi, macet, ketidakramahan, serba mahal, tingkat kejahatan tinggi…. Arrrgh, I hate those things.

Dan mulailah aku menjalani semua itu, bertemu dengan hal2 mengerikan tentang Jakarta yang ada dalam daftarku. Tempat sampah jarang kelihatan, polusi dimana2, pusing kena macet, senyum sama orang tapi dicuekin, kaget waktu habis makan dan membayar harga yang relatif tinggi yang disebut penjual,  mengejar2 metromini yang larinya ampun2an….. dst, dst

Tapi, here I am. Harus menghadapi semuanya. Mungkin suatu saat, setelah lama berkenalan dengan kota ini aku akan menemukan sisi lainnya. Just like people said, dont judge a book from the cover. Mungkin aku harus mengenalnya lebih dalam untuk bisa mencintainya (tsahhh…mencintainya).

So Jakarta, here I come 🙂

Februari 17, 2009 Posted by | daily fresh | 8 Komentar

Pak SIPEG

Beberapa hari yang lalu, seorang pembicara di kelas diklat Prajabatanku memberi sebuah renungan padaku. Sayang sekali aku lupa nama beliau.

Penampilannya  sederhana, dengan seragam salah satu BUMN paling berjasa di Indonesia. Rambutnya juga tidak terlihat ditata dengan rapi. Dengan logat Kroya-nya yang masih samar terdengar setelah puluhan tahun tinggal di Jakarta, beliau berbicara di depan kami, siswa2 diklat yang mayoritas adalah Ahli Madya alias lulusan Diploma. Di tengah penjelasannya soal Sistem Informasi Pegawai, dia menceritakan sedikit kisah hidupnya.

Anak petani ini, memulai karirnya di PLN di tahun 1985. Saat itu dengan bekal ijasah SMP dia melamar menjadi security alias satpam dengan status pegawai harian. Di tahun 96, barulah  diangkat menjadi pegawai tetap dengan peringkat gaji antara skala 1- 26, beliau di peringkat 24. Bayangkan, 11 tahun harus menunggu untuk menjadi pegawai tetap.

Di tahun 2000, karirnya meningkat dengan diangkat menjadi pegawai di bagian umum. Dan hingga sekarang, beliau sudah beberapa kali mengikuti tes untuk kenaikan peringkat dan Alhamdulillah sudah berada di level 17. Sekarang, jabatannya adalah staf  SDM Pusdiklat PLN. Beliau mahir mengoperasikan komputer dan aplikasi Sistem Informasi Pegawai yang menurut kami sedikit rumit. Hebatnya, semua itu dipelajari dengan otodidak. Tidak ada pendidikan formal yang lebih tinggi maupun kursus lain kecuali Diklat Perusahaan.

Aku membandingkannya dengan kami yang baru saja mengikuti Diklat, baru masuk saja, peringkat kami sudah di level 20. Teman Diklat lainnya yang pendidikannya lebih tinggi langsung menempati posisi 18. Kami hanya harus menunggu 1 tahun sebelum diangkat menjadi pegawai dengan mengikuti OJT. Bersyukurlah kami. Dibandingkan dengan bapak itu,kami jauh lebih beruntung.

Memang, semuanya dipengaruhi tingkat pendidikan. Tapi terkadang hidup  ini terasa begitu tidak adil. Seandainya beliau dulu punya kesempatan lebih untuk sekolah, mungkin nasibnya akan berubah lebih cepat, dan posisi yang ditempatinya sekarang mungkin akan lebih tinggi. Tapi dia hanya berujar, “rejeki, semua udah ada yang atur”. Beliau hanya berusaha untuk sabar dan fokus untuk setiap apa yang beliau kerjakan.

Dan hasilnya bisa beliau nikmati sekarang, buah kesabaran dan ketekunannya untuk belajar. Beliau bisa menghidupi keluarganya denganbaik dan cukup.  Satu kata beliau yang masih terngiang,  hidup kita nanti ditentukan pilihan kita sekarang, jadi bijaksanalah dalam mengambil sebuah pilihan. Dan  Allahlah sebaik2 pengambil keputusan, maka ingatlah Dia dalam setiap pilihan yang kita ambil.

Hari itu Pak Sipeg (karena aku lupa namanya, jadi kuambil  dari materi yang dia ajarkan, Sistem Informasi Pegawai 🙂 ) memberiku sebuah renungan, untuk selalu bersabar, belajar dan beryukur. Bisakah kita belajar darinya?

Januari 18, 2009 Posted by | daily fresh | 5 Komentar